Jumat, 12 Juli 2013

I Dunno, But...

Aku nggak tahu harus memulai tulisan ini dari mana. Aku juga nggak tahu apa aku pingin nulis atau nggak. Terkadang, aku juga nggak tahu apa yang aku tuliskan ini keinginan aku atau bukan. Aku benar-benar nggak tahu dengan semua tulisan ini. Yang aku tahu, aku benar-benar tak tahu apa yang terjadi dengan diriku dan aku nggak tahu apa maksud tulisan aku ini.


Tangan aku menari begitu saja di atas keyboard laptop ini. Bibirku tertutup rapat sambil tersenyum sambil mengingat segalanya. Mata aku kosong sambil menemani kekosongan pikiran aku saat ini, dan pikiran aku kosong seakan pergi jauh nggak tau ke mana. Jauh sekali. Kemudian di dalam setiap tulisan ini ada semua tentang kamu, kamu yang selalu membekas di hati aku ini. 


Aku baru sadar. Kata-kata itu seperti lirik lagu yg pernah kudengar; “Pertemuan singkat dan berjalan sangat cepat. Tidak disangka aku langsung terhipnotis olehmu”. Lagi-lagi cuma rangkaian lirik lagu yang bisa aku ungkap di sini. Mungkin ini lebih baik, aku masih bisa mengingat rangkaian lirik lagu

Setelah apa yang terjadi di hidupku selama ini yg berawal dari pertemuan dengan kamu.


Aku masih saja mengharapkan kamu tanpa adanya sebuah kepastian. Aku masih saja terjatuh ke dalam jurang kesalahan yang sama. Aku masih saja bermimpi di tengah-tengah kesepian hati aku ini. Aku masih saja mau disakiti, disakiti, dan disakiti lagi oleh kamu. Aku masih terdiam karna ulah kamu.

Dan aku sadar kembali, manusia memang bukanlah makhluk yang sempurna. Begitu juga dengan aku ini. Terkadang manusia juga melakukan hal bodoh dan begitu pula dengan aku.


Aku terdiam dengan mendengarkan suara hatiku saja. Suara hati yang menuntun aku pada sebuah penyesalan. Sudah lama kurasakan penyesalan ini. Mungkin benar yang dikatakan mereka “Kamu terlalu polos, kamu terlalu lugu. Sampai-sampai kamu selalu berbaik hati membuka hati, memberi apa yang terbaik buat orang lain. Tapi menerima apa yang tak pantas kamu terima”. Dalam hati kecilku berkata kalo aku nggak pernah mau nyakitin hati orang lain, aku nggak pernah mau mencari musuh.

Aku baru sadar, aku baru saja memenuhi sebagian besar tulisanku di sini. Besar hingga menghabiskan separuh waktu di perjalanan hidup aku. Tapi itu semua nggak akan membuat aku berhenti di tepi jalan ini. Aku ingin berjalan, dan terus berjalan, berjalan menyusuri apa yang nggak pernah aku duga. Meski kadang aku tertatih mencari pelangi dalam hujan.





Iya, Zahra dalam kesunyian malam. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar