"Aku mencintaimu!" teriakku dalam hati, tapi tak sanggup untuk dikatakan.
Pengecut, sesakku dalam pikiran yang meronta merintih tiada henti.
"Aku menyayangimu!" teriakku kembali dalam hati, bukannya aku mengatakannya kepadamu.
Malah aku berlelah dalam sikapku padamu.
“Aku mau kau membaca dan mengerti sikapku.”
“Jangan buat aku seperti manusia bodoh!” kecamku padamu, lagi-lagi di dalam hati.
“Bulan, jadikan aku bintang bagimu. Agar senantiasa aku bisa bersamamu.”
“Jangan buat aku seperti manusia bodoh!” kecamku padamu, lagi-lagi di dalam hati.
“Bulan, jadikan aku bintang bagimu. Agar senantiasa aku bisa bersamamu.”
“Sejajar di dalam pergerakan surya yang melintasi orbit di galaksi bersamamu!”
Ah, aku lupa. Bintang tidak berotasi, dia hanya diam, berpendar, berkelap-kelip.
Sedangkan bulan berotasi.
Ah, aku lupa. Bintang tidak berotasi, dia hanya diam, berpendar, berkelap-kelip.
Sedangkan bulan berotasi.
Maksudku, berevolusi. Or whatever...
"Bulan, tolong lihat aku di sini!"
Aku ingat kamu pernah bilang, "Kamu adalah bintang yang sedang mencari bulan, agar kamu bisa ikut bergerak bersamanya."
Aku ingin menjadi bintang itu.
Aku ingin kamu ikut bersamaku.
"Bulan, tolong lihat aku di sini!"
Aku ingat kamu pernah bilang, "Kamu adalah bintang yang sedang mencari bulan, agar kamu bisa ikut bergerak bersamanya."
Aku ingin menjadi bintang itu.
Aku ingin kamu ikut bersamaku.
Atau mungkin sebaliknya?
Aku terduduk dalam diam.
Hening sejenak, mengumpulkan keberanian
Untuk kemudian bertanya padamu.
"Bulan, apakah aku akan tetap menjadi bintang mu walau aku tak bisa ikut berevolusi?"
Kemudian bulan menjawab dengan nada tinggi.“Hey. Pertanyaan yang bodoh! Tentu saja kau akan selalu menjadi bintangku..."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar