Dari pertama lihat kamu, aku selalu merasa nyaman dan tenang saat bersama kamu. Hari demi hari kita jalanin sama-sama. Aku ingat waktu pertama kali bertemu dengan kamu. Pertemuan singkat dan tidak pernah terduga. Hanya hitungan waktu kita sampai begitu dekat. Tanpa didasari sebuah perasaan karena aku milik seseorang dan kamu pun milik seseorang.
Suatu waktu, sempat ketika kamu hilang dari hidup aku. Aku nggak tau harus nyari kamu kemana. Aku merasa kehilangan. Sepi. Sedih. Gelisah tentunya. Nggak tau harus berbuat apa. Tapi akhirnya kamu ada kabar. Merasa senang, meskipun kamu sepertinya nggak pernah tahu kalau aku nungguin kamu. Datar.
Akhirnya, waktu berjalan. Aku dan kamu jadi lebih sering komunikasi gara-gara kamu sedang dalam suatu masalah yang cukup serius. Aku senang menjadi tempat tampungan semua keluh-kesah kamu. Aku rela kamu menangis di bahuku ini, aku rela memeluk tubuh kamu itu. Meskipun tubuh ini sebenarnya milik orang lain. Datar dan hanya merasa sebagai teman.
Suatu hari, aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan aku dan dia. Dia yang selalu menyakiti aku sampai kamu pun muak dengan sikap dan perlakuan dia terhadap aku. Nggak lama ternyata kamu sama dia pun putus juga. Aku nggak tau kenapa kalian sampai putus. Aku nggak berani untuk nanyain itu sama kamu. Diam dan penuh tanya.
Hari-hari berjalan seperti air mengalir. Kamu selalu ngabarin aku dan sebaliknya. Menanyakan bagaimana hari-hariku di sekolah. Senang dan bahagia. Perhatian kamu membuat aku merasa lebih dari nyaman. Kamu nganterin aku ke rumah. Bercanda bersama dan tertawa bersama sampai aku nggak bisa nelen air ludahku sendiri gara-gara sikap aku dan kamu yang konyol. Perasaan itu hadir.
But getting here, I feel differently. Kamu kayak bukan 'kamu' yang aku kenal. Kamu udah berubah. Aku tahu kamu sibuk dengan kesibukan kamu. Karena kamu tahu aku juga sibuk dengan kesibukanku yang menggunung. Awalnya aku menanggapi hal ini biasa. Karena aku tahu, aku bukan siapa-siapa kamu. Tapi, perasaan aku ini rasanya tersakita karena sikap kamu itu. Aku khawatir. Aku merasa sepi nggak adanya kamu di setiap hari aku.
Mungkin aku salah selama ini menilai semua sikap yang kamu kasih buat aku. Aku terlalu berilusi sangat jauh sampai memikirkan suatu hubungan yang jelas. Kadang aku berfikir, apakah kamu juga memiliki perasaan yang sama seperti aku?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar