Rabu, 19 Juni 2013

Biarlah Aku Yang Merasakannya

Andai waktu dapat aku putar kembali, ingin rasanya aku menghapuskan kebodohan dengan sebuah kebijaksanaan. Dan seandainya hati ini mampu aku rubah dari abu-abu menjadi berwarna kembali. Kadangkala aku jenuh dengan kehampaan hati ini, sepi. Tidak ada yang mengisi lagi. Tersakiti oleh keadaan.

Waktu terus berputar dan berlalu. Seakan tidak ingin memberikan kesempatan kepada aku untuk berhenti sebentar saja. Seperti air tetesan yang terjatuh di atas dedaunan yang selalu menunggu mentari untuk menghapusnya. Seperti debu yang terhempas oleh desiran angin kencang tiada hentinya, terbang jauh dan semakin menjauh. Seperti itukah aku?
Tenggelam dalam lautan bulir air mataku sendiri, berdarah dalam luka dan duka. Seperti itukah aku di sakiti oleh kamu? Kamu yang selalu membuat aku nyaman ternyata kamu yang selalu buat aku kecewa. Daun pun berguguran jatuh beriringan seperti yang tak berguna.

Saat bersama semua terasa menyenangkan. Hingga semua lupa bahwa ada perubahan diantara kasih ini. Ketika itulah kesepian menggerogoti jiwaku.

Kini walaupun hanya mata yang dapat membuat kita dekat, namun rasa cinta dan rinduku masih sama seperti dulu. Hanya kini, aku tidak bisa memeluk kamu ketika kamu dalam kesedihan. Tak dapat lagi aku mengatakan bahwa aku rindu kepada kamu. Pesona kamu yang selalu membuat semua terasa indah, setiap aku melihat kamu, aku tak bisa melepaskan tatapan dari kamu.

Ingin rasanya hati ini berteriak. Ingin rasanya aku mengungkapkan semua yang aku rasakan pada kamu. Tapi, apa daya apabila akhirnya aku terdiam dalam bisuku sendiri? Biarlah aku saja yang merasakannya.






Zahra Nurul F, dalam kesendiriannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar